DBAsia News

800 Tiket Final Liga Champions Tidak Laku Karena Dinilai Terlalu Mahal

DBasia.news – Menonton langsung event besar seperti final Liga Champions merupakan impian beberapa suporter sepak bola, tetapi beberapa fans tidak memedulikannya karena harga yang kemahalan jelang final Liga Champions 2020-2021.

Manchester City akan bertanding melawan Chelsea di final Liga Champions yang dihelat di Estadio Do Dragao, Minggu (30/05) pukul 02.00 dini hari WIB. Laga itu dapat dihadiri penonton di tengah pandemi virus corona meski tidak dengan kapasitas penuh.

Menjelang final itu Chelsea yang mendapatkan jatah 5.800 tiket dari UEFA untuk fans mereka mengembalikan 800 tiket lebih. Tiket itu dikembalikan karena kemahalan. Sementara 2.800 tiket yang terjual ada pada kategori perjalanan independen (bukan paket).

Tiket-tiket yang tak terjual merupakan kategori paket yang juga termasuk akomodasi perjalanan. Kendati termasuk paket lengkap tapi dengan harga yang tinggi 400 euro atau sekira 6,9 juta rupiah, fans keberatan dengannya.

“Kurangnya kepedulian UEFA terhadap fans kembali terlihat. Mereka datang untuk menjadi teman kami selama Liga Super Eropa tetapi sekarang mereka telah berpaling dari kami lagi,” tutur Dan Silver, anggota fans Chelsea di BBC Sport.

“Desakan UEFA untuk memiliki penerbangan yang sudah dibooking – awalnya terkait dengan 90 persen tiket, yang didorong kembali oleh klub – hanya menghabiskan 24 jam di Portugal dengan pengujian Covid tambahan dan biaya tambahan telah membuatnya sangat mahal.”

“Menjual tiket hingga 400 euro untuk final akses terbatas dengan perjalanan yang tidak perlu adalah keterlaluan ketika ada solusi yang jelas lebih dekat ke rumah.”

Sebanyak 16.500 kapasitas penonton di dalam stadion telah dikonformasi dengan total 50.000 kapasitas. UEFA dalam sorotan karena menaikkan harga tiket final yang dimulai dari 70 euro lalu meningkat hingga 400 euro.

Peningkatan itu terpaksa dilakukan UEFA karena masalah finansial di tengah pandemi virus corona. Penghematan UEFA sebesar 500 juta euro diprediksi menurun drastis dengan angka 100 juta euro pada 2023.

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?