DBAsia News

Tendangan Paul Scholes Berhasil Bungkam Lionel Messi dkk

DBasia.news – Saat anda melihat pandit sepak bola berbicara di televisi dan melihat humor yang mereka ciptakan, entah itu lewat komentar atau candaan di sesame kolega, masyarakat lupa jika mereka cukup legendaris.

Pada eranya bagi mereka, fans lawas yang sudah lama mengikuti sepak bola, nama-nama seperti Paul Scholes, Thierry Henry, Gary Neville, Roy Keane, hingga Michael Owen memiliki kisah atau warisan yang pernah mereka ukir sebagai pemain di masa lalu.

Terlepas dari komentar mereka sebagai pandit yang acapkali benar, subyektif, obyektif, atau bahkan seringkali nyeleneh, peran mereka sebagai pemain di masa lalu tidak bisa begitu saja dilupakan.

Seperti halnya Paul Scholes. Ketika berbicara mengenai Scholes maka fans Manchester United akan selalu mengingat angkatan terkenal 1992, di mana generasi emas lahir dari akademi di bawah binaan Sir Alex Ferguson.

Scholes ada di antara David Beckham, Ryan Giggs, Phil Neville, Gary Neville, dan Nicky Butt dari generasi tersebut. The Ginger Prince atau Pangeran Jahe, itulah julukan Scholes yang berasal dari rambutnya merujuk kepada ras berambut merah.

Scholes satu contoh dari kesuksesan akademi Man United menggembleng pemain muda. Dikarunia visi bermain dan operan bola akurat, Scholes mengombinasikan kemampuannya itu dengan penempatan posisi dan kualitas teknik dalam melepaskan tendangan jarak jauh.

155 gol sudah dilesakkan Paul Scholes dari 718 penampilan untuk Man United, dari debutnya di tim utama melawan Port Vale di Piala Liga pada 21 September 1994 hingga ia pensiun pada 19 Mei 2013 – sebelumnya sempat pensiun namun melakukan comeback.

Sudah banyak gol penentu yang diciptakan Scholes dalam kariernya dengan tendangan jarak jauh, satu yang paling diingat adalah saat melawan Barcelona di Old Trafford.

Semifinal Liga Champions 2007-2008

Tidak ada habisnya kala membahas kesuksesan besar Red Devils ketika dilatih Sir Alex Ferguson. Tapi apabila harus mengingat satu musim terbaik maka itu terjadi di musim 2007-2008, kendati itu tidak sesukses musim treble winners bersejarah pada 1999.

Musim 2007-2008 diingat sebagai musim terbaik Cristiano Ronaldo dengan 42 golnya untuk Man United di seluruh kompetisi, berujung titel Liga Champions dan Premier League untuk klub. Dari sisi personal publik mengingat itu.

Akan tapi dari perjalanan panjang Man United ke final Liga Champions sebelum menang lawan Chelsea di drama adu penalti, klub terlebih dahulu melalui hadangan Barcelona di semifinal dengan agregat gol 1-0.

Leg pertama dihelat di Camp Nou dan kebisingan di sana sudah cukup membuat klub lawan merinding. Man United tidak gentar dan laga berakhir imbang 0-0 dengan rasa ‘kekalahan’ untuk mereka, sebab Man United punya peluang mencetak gol dari penalti (gagal) Ronaldo.

Barcelona dilatih Frank Rijkaard kala itu dan punya Xavi Hernandez, Andres Iniesta, Lionel Messi, Samuel Eto’o, Carles Puyol, dan Gianluca Zambrotta di dalam tim. Tak lupa ada juga legenda Arsenal Thierry Henry.

Penentuan ditentukan di Old Trafford. Man United menurunkan taktik 4-4-2 andalan dengan mengandalkan Ronaldo dan Carlos Tevez di depan, didukung oleh Luis Nani, Scholes, Michael Carrick, dan Park Ji-sung.

Scholes sempat membuat kekhawatiran kala melanggar Messi muda tepat di sisi kiri kotak penalti Man United, namun bukan penalti karena pelanggaran terjadi di luar kotak penalti.

Pada menit 14 Scholes menebus kesalahannya itu. Menerima bola liar dari sapuan tak sempurna Xavi yang merebut bola dari Ronaldo, Scholes menerimanya dan dari luar kotak penalti tendangan geledek yang diciptakannya tidak dapat ditepis oleh Victor Valdes, mengoyak jala gawang Barcelona.

Gol Scholes itu menjadi satu-satunya gol yang tercipta di Camp Nou melawan Barcelona, membawa Man United ke final. Lionel Messi tak berdaya menjadi pembeda bagi klub dan itu bisa dimaklumi, pada usia muda Messi lebih banyak mendribel bola mencoba melewati lawan dan visi bermainnya belum terasah.

“Dia (Scholes) adalah salah satu pemain hebat yang muncul di sini. Kami tidak bisa berharap dia mencetak 10 hingga 15 gol dalam satu musim seperti yang dia lakukan ketika dia masih muda, tetapi yang dia dapatkan malam ini menebus semua yang tidak bisa dilakukannya lagi untuk mencetak gol,” ucap Ferguson memuji Scholes kala itu.

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?