Nostalgia, Saat Sepak Bola Murni Sebagai Hiburan Dan Kesenangan Bagi Jorge ‘Magico’ Gonzalez

DBasia.news – Jorge Alberto ‘Magico’ Gonzalez adalah pemain yang berbeda. Dia merupakan pesepak bola profesional yang benar-benar tidak peduli jika timnya menang atau kalah.

Gonzalez tetap menjadi pemain yang paling dicintai dalam sejarah klub Cadiz hanya karena alasan itu. Bagi Magico, kesenangan dan perayaan dalam bermain sepak bola adalah hal yang terpenting.

Gonzalez merupakan tipikal pemain yang akan viral di YouTube, jauh sebelum YouTube ada. Dia pernah mencetak gol dari sisi lapangan timnya bersama Cadiz melawan Barcelona di Camp Nou pada 1984. Dalam pertandingan tersebut dia juga menggocek bintang blaugrana, Diego Maradona.

Dia juga pernah membawa bola melewati tiga pemain yang diakhiri dengan tendangan kejutan melewati kiper saat melawan Racing Santander pada 1986. Kemudian, dia pernah melakukan tendangan bebas yang bersarang di ujung atas gawang Atletico Madrid. Gol-gol tersebut memiliki perbedaan dalam eksekusinya, namun seluruh golnya akan jarang dilakukan oleh seorang pemain, apalagi dieksekusi sesempurna itu.

Lahir pada 1958 di lingkungan sederhana San Salvador, Ibu Kota El Salvador, Gonzalez merupakan talenta alami yang dicintai dan paling sukses dalam sejarah negaranya. Bahkan sebelum dia membawa negaranya untuk mendapat kesempatan langka tampil di Piala Dunia 1982.

Setelah turnamen yang diadakan di Spanyol, Gonzalez bisa saja bergabung dengan Paris Saint Germain atau Atletico Madrid. Namun, godaan Cadiz sulit untuk ditolak.

Selama delapan musim setengah bersama Cadiz, kemenangan bukanlah sesuatu yang pasti dalam setiap pertandingan, tapi hiburan sudah pasti muncul. Musim terbaiknya adalah pada musim 1983-84, dengan 14 gol di LaLiga, tetapi sayangnya klub tersebut tetap terdegradasi.

Di atas lapangan Magico, selain menghemat tenaga dengan tidak membantu pertahanan atau instruksi taktis, dia juga siap untuk melakukan trik istimewa atau mencetak gol ajaib. Selama membela klub, Cadiz terdegradasi dua kali, tetapi promosi dengan jumlah yang serupa pula. Mereka juga mencapai finis tertinggi di posisi 12 pada 1988 serta mencapai babak semifinal Copa del Rey pada 1990.

Sementara itu, kehidupan di luar lapangan juga banyak hal tak terduga. Cadiz merupakan kota di mana konstitusi demokratis pertama Spanyol dibuat, serta tempat karnival megah yang diadakan setiap tahun. Cadiz juga menjadi tempat di mana aturan ketat dalam masyarakat Spanyol tidak selalu berlaku.

Pada era 1980-an, tempat tersebut merupakan favorit dari penyanyi flamenco legendaris, Camaron de la Isla dan gitaris Paco de Lucia. Mágico masuk ke dalam kehidupan malam kota tersebut, terutama saat diadakannya turnamen ‘Trofeo Carranza’ yang berlangsung pada musim panas sebagai tempat bagi Mágico untuk menunjukan keahliannya.

Direktur klub dan para pelatih tidak selalu melihat sisi menghibur dari sikap Magico baik di dalam maupun luar lapangan, tetapi dia tetap melanjutkan menikmati kehidupan di kota tersebut sampai pergi pada 1993 saat berusia 33 tahun.

“Saya menyadari bahwa saya bukanlah seorang alim dan bahkan ibu saya sendri pun tidak mampu menahan keinginan saya untuk berpesta,” ujar González kepada El Diario de Cadiz.

“Saya juga menyadari bahwa saya kurang baik dalam pekerjaan, namun saya tidak mengganggap sepak bola sebagai sebuah pekerjaan. Jika saya berpikir demikian, saya tidak akan menjadi diri sendiri. Saya bermain sepakbola hanya untuk menyenangkan diri saya.”

Setelah meninggalkan LaLiga, Magico kembali ke mantan klub FAS di negara asalnya, di mana dia bermain hingga gantung sepatu pada 2000. Baru-baru ini, dia melatih tim nasional Junior El Salvador, terdaftar dalam Hall of Fame FIFA, dan tampil bersama bintang Barcelona saat ini, Lionel Messi, dalam iklan merek minuman ringan terkenal.

Sementara itu, Cadiz terus mengalami naik turun kasta, turun hingga ke kasta ketiga sebelum naik kembali selama satu dekade terakhir. Tim saat ini tidak seflamboyan skuad Magico, tetapi mereka masih menghibur pendukung dengan promosi ke LaLiga pada musim lalu untuk pertama kalinya sejak 14 tahun.

Beberapa bulan terakhir juga menunjukan dorongan dari pendukung untuk mengganti nama Stadion Caranza menjadi ‘Magico’, tempat di mana warisannya hidup di klub serta kotanya.