Milan Berjuang Habis-habisan di Arbitrase Olahraga

AC Milan (Zimbio)

DBasia.news – Dari juara tujuh kali Liga Champions menjadi tim pesakitan yang dihukum UEFA (Federasi Tertinggi Sepak Bola Eropa). Itulah AC Milan. Akibat melanggar regulasi Financial Fair Play (FFP), Rossoneri dihukum bermain di turnamen antarklub Eropa selama dua musim.

Hukuman itu diberikan karena Milan melebihi batas hutang yang diperbolehkan UEFA terkait aturan FFP. Seperti yang telah diketahui, Milan mengeluarkan 100 juta euro lebih pada musim panas lalu untuk merekrut 11 pemain baru.

Akan tetapi, prestasi dan pencapaian mereka bertolak belakang dengan biaya yang keluar untuk membeli pemain. Milan gagal lolos Kualifikasi Liga Champions dan meraih satupun trofi. Sanksi larangan bermain di turnamen antarklub Eropa selama dua musim jelas akan semakin mengurangi pendapatan mereka.

Milan wajib menjual pemain-pemain andalan mereka di musim panas ini untuk menyeimbangkan neraca keuangan klub, khususnya pemain dengan banderol besar dan bergaji tinggi. Selain berusaha untuk menyeimbangkannya, Milan juga akan mencoba menempuh jalur lain untuk ‘mengakali’ hukuman tersebut.

Chief Executive Milan, Marco Fassone, mengakui bahwa timnya tengah berjuang via jalur CAS (Arbitrase Olahraga Dunia). Harapanya hasil dari CAS bisa menangguhkan hukuman larangan bermain selama dua musim di turnamen antarklub Eropa dari UEFA.

“Kami menganggap keputusan UEFA tidak adil. Saya harap CAS akan melihatnya dengan berbeda dan kami akan terus bertarung hingga akhir untuk membalikkan hukuman tersebut,” ucap Fassone, disadur dari Goal, Selasa (3/7).

Hukuman dari UEFA tidak termaksud embargo transfer. Ini artinya, Milan masih bisa mendatangkan pemain di bursa transfer musim panas – tentunya dengan mempertimbangkan harga yang tidak membebani finansial klub. Baru ini, Milan meresmikan transfer Pepe Reina dan Ivan Strinic yang direkrut gratis, karena kontrak keduanya berakhir dengan Napoli dan Sampdoria.