Manchester City di Liga Champions: Kutukan Pep Guardiola

DBasia.news –  Pep Guardiola tidak pernah meraih title Liga Champions lagi sebagai pelatih klub. Terakhir ia dapatkan pada tahun 2011 bersama Barcelona.

Kutukan titel Liga Champions seolah terus menghantuinya dari medio 2013 hingga kini dengan Man City. Ironis. Pasalnya, The Citizens di bawah arahannya bermain ofensif dan menghibur penonton. Musim lalu, mereka menyapu bersih titel domestik.

Selalu ada hadangan bagi Man City tiap kali melaju ke fase gugur dan melewati fase grup. Tiga tahun Guardiola melatih Man City dan titel Liga Champions jadi penantian panjang yang ingin diraih fans. Kendati demikian, Guardiola tidak akan menyesal apabila pada akhirnya tak dapat meraih titel Liga Champions di City.

“Sejak konferensi pers pertama saya di Manchester, saya sudah diberitahu bahwa saya ada di sini untuk memenangi Liga Champions. Saya telah berbicara beberapa kali dengan Pemilik klub, Khaldoon (Al Mubarak) dan mereka tidak memberitahu saya soal itu,” tutur Guardiola, dikutip dari Sky Sports.

“Mereka memberitahu saya bahwa saya datang ke sini untuk melanjutkan proyek, untuk mencoba mengevolusi permainan, memenangi pertandingan, dan melihat seberapa jauh kami bisa melaju.”

“Itu langkah berikutnya yang logis untuk menjadi juara Eropa, tapi terkadang itu tidak mungkin diraih. Tentu saja kami ingin memenanginya, tapi entah itu terjadi atau tidak, tidak akan mengubah hidup atau niatan saya.”

“Saya tidak akan mencoba setiap hari, untuk 10 bulan berikutnya, berpikit itu akan jadi bencana besar dalam hidup saya apabila tak dapat meraihnya,” terang pelatih asal Spanyol tersebut.

Guardiola mencontohkan Barcelona yang baru pertama kali meraih titel Eropa pada 1992. Itu dijadikan contoh bahwa tidak mudah meraih titel Liga Champions.

“Terkadang itu (meraih titel Eropa) butuh beberapa tahun, terkadang lebih lama lagi. Barcelona menanti hingga 1992 untuk memenangi titel (Eropa) pertama dan mereka telah memainkan kompetisi ini selama bertahun-tahun,” tambah Guardiola.

“Di sini, tidak sering, Anda tidak memenangi kompetisi dalam waktu pendek dan Anda tak bisa menang tanpa fans – kami harus merayu mereka,” pungkasnya.