Faktor di Balik Layar Kebangkitan Sepak Bola Vietnam

Iraq vs Vietnam during the AFC U23 Championship China 2018 Quarter-finals match at Changshu Stadium on 20 January 2018, in Changshu, China. Photo by Yu Chun Christopher Wong / Power Sport Images

Nguyen Quang Hai

DBasia.news – Pertandingan seru dan sengit terjadi di laga terakhir grup Piala Asia 2019 antara Yaman kontra Vietnam. Pertarungan di Stadion Hazza Bin Zayed mempertaruhkan tiket 16 besar.

Vietnam melawan Yaman usai kalah dua kali beruntun melawan Irak (2-3) dan Iran (0-2). Hasil maksimal jika menang hanyalah tiga poin (peringkat tiga grup D) – sembari berharap jadi salah satu dari peringkat tiga terbaik yang lolos ke fase gugur.

Yaman tidak lebih kuat dari Iran dan Irak, tapi tetap bisa memberi kejutan. Vietnam bermain penuh tekanan. Tapi, sebuah momen magis terjadi di menit 38 dan menghilangkan seluruh ketegangan itu.

Pemain dengan nomor punggung 19 berdiri tegak di bagian kiri luar kotak penalti Yaman. Hanya ada bola, pagar betis, dan kiper yang berada di antara dia dan gawang Yaman. Matanya begitu fokus melihat gawang lawan.

Sembari mengambil ancang-ancang, dia menendang bola dengan kaki kirinya keras dan mengarahkannya ke kiri gawang Yaman. Kiper Yaman tidak bisa menghentikannya. Luapan ekspresi keluar dari pengguna nomor 19 itu. Ya, dia adalah Nguyen Quang Hai.

Pasca gol itu, Vietnam mendominasi permainan dan menunjukkan status mereka sebagai juara Piala AFF 2018, hingga gol penentu kemenangan lahir dari kaki Que Ngoc Hai di menit 64 dari titik putih. Vietnam menang 2-0.

Kendati menang, tidak ada raut ekspresi atau euforia berlebihan dari fans serta pemain Vietnam. Kemenangan itu belum tentu melolos mereka ke-16 besar.

Selang berhari dari pertandingan tersebut, barulah fans dan pemain Vietnam bersuka cita. Perjalanan mereka di Piala Asia berlanjut karena Vietnam dinyatakan lolos sebagai salah satu tim peringkat tiga terbaik.

Vietnam mengalahkan Lebanon dari segi kedisiplinan dengan jumlah kartu kuning yang lebih sedikit dari Lebanon. Dewi fortuna tersenyum kepada Vietnam.

Golden Dragons tetap bertahan di Piala Asia 2019 dan melanjutkan perkembangan sepak bola mereka. Selain Thailand, Vietnam salah satu negara ASEAN (Asia Tenggara) yang menaikkan standar permainan dan level sepak bola.

Berkat Kebijakan Pelatih Asing

Dua tahun lalu Vietnam U-20 mengirim perwakilan ke Piala Dunia U-20, di tahun berikutnya tim senior menjuarai Piala AFF 2018, dan di awal tahun ini, petualangan Vietnam berlanjut di Piala Asia 2019.

Vietnam berkembang pesat sejak dilatih oleh Park Hang-seo, pelatih asal Korea Selatan, selama dua tahun terakhir. Apa yang dilakukan Park hanyalah melanjutkan tradisi baru rasa lama Vietnam mengenai kebijakan pelatih asing.

“Kami menyadari perlunya perubahan dalam perkembangan sepak bola (Vietnam) dengan wawasan sepak bola mereka (pelatih asing) jika kami ingin menaikkan standar ke level yang lebih tinggi,” ucap Le Khanh Hai, Presiden VFF (Federasi Sepak Bola Vietnam) di laman resmi FIFA.

“Tuan Park di antara pelatih-pelatih asing tersukses yang melatih timnas kami selama beberapa tahun terakhir ini. Di bawah arahannya, tim bermain dengan determinasi tinggi dan mendapatkan pencapaian yang bagus.”

Park, 60 tahun, juga menangani timnas Vietnam U-23 selain timnas senior. Di bawah bimbingannya, sepak bola Vietnam terus berkembang pesat dari level tim muda hingga senior.

Sebelum Park datang, ada lima pelatih timnas Vietnam yang sudah terlebih dahulu memulai kebijakan pelatih asing tersebut.

Semua berawal ketika Vietnam gagal total dalam Kualifikasi Piala Dunia 1994. Vietnam hanya menang sekali dari delapan pertandingan. Setahun berselang, pelatih Jerman, Karl Heinz Weigang datang.

Di bawah asuhan mantan pelatih timnas Ghana itu, Vietnam mencapai kesuksesan peringkat tiga di Piala AFF 1996 (masih bernama Piala Tiger). Weigang melatih hingga 1997 dan nahkoda kepelatihan Vietnam berikutnya dipegang oleh sosok yang sudah tidak asing bagi masyarakat Indonesia, Alfred Riedl.

Pelatih asal Austria melatih Vietnam selama empat periode: 1998-2000, 2003, 2005-2007. Pasca era Riedl, Vietnam ‘ketagihan’ menggunakan servis pelatih asing dan menunjuk Henrique Calisto (2002, 2008-2011), Edson Tavares (1995 dan 2004), Toshiya Miura (2014-2016).

“Dari kerja sama dengan pelatih-pelatih asing, kami telah belajar profesionalisme, kehati-hatian, dan kedisiplinan di sesi latihan. Wawasan yang kami dapat bahkan melebihi sisi teknik dan taktik, dan sekarang kami, contohnya, menyadari pentingnya mentalitas dan nutrisi,” imbuh Le.

Seperti kata pepatah kuno Vietnam “Pilih orang yang bijak dan ikutilah”, begitulah kondisi Vietnam saat ini. Perpaduan budaya yang diberikan pelatih asing ditelaah dengan baik oleh pemain Vietnam hingga mereka bisa berkembang pesat, menyaingi Vietnam.

Semoga saja kelak pembelajaran dari Vietnam dan Thailand itu bisa diikuti oleh Indonesia.